KASIH SAYANG ORTU SEPANJANG JALAN..
Orang tua adalah figur teladan bagi anak-anaknya, baik itu ucapan maupun perbuatan sehari-hari. Ketika orang tuanya saleh, taat menjalankan syariat, dan dekat dengan Allah Swt., niscaya anak-anak akan mencontoh kedua orang tuanya karena melihat akhlak dan kebiasaan yang baik dari kedua orang tuanya. #Keluarga #Pernikahan
--
Wahai Umi dan Abi, Kesalehan Kita Akan Berpengaruh terhadap Anak-Anak Kita
https://muslimahnews.net/2023/03/01/18106/
--
Penulis: Najmah Saiidah
Muslimah News, KELUARGA — Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Inilah pepatah yang menggambarkan karakter, akhlak, dan keilmuan seorang anak akan mengikuti atau tidak jauh berbeda dengan orang tua. Meskipun terkadang takdir Allah Swt. menjadikan orang tua saleh, tetapi anak-anaknya tidak taat beragama, atau sebaliknya.
Salah satu kewajiban asasi orang tua adalah memberikan pemahaman dan mengenalkan syariat mulai dari aktivitas sederhana yang biasa dilakukan sehari-hari. Oleh karenanya, sebelum menjadikan anak-anak kita saleh, sudah seharusnya kita harus berusaha untuk menjadikan diri kita paham dan hukum-hukum syarak, baik berkaitan dengan ibadah, akhlak, muamalah, dan sebagainya.
Bagaimanapun, orang tua adalah figur teladan bagi anak-anaknya, baik itu ucapan maupun perbuatan sehari-hari. Ketika orang tuanya saleh, taat menjalankan syariat, dan dekat dengan Allah Swt., niscaya anak-anak akan mencontoh kedua orang tuanya karena melihat akhlak dan kebiasaan yang baik dari kedua orang tuanya.
Lebih dari itu, mendidik anak adalah amanah dan tanggung jawab orang tua. Allah Swt. berfirman,
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS At-Tahrim: 6).
Ali bin Abi Thalib ra berkata tentang arti ayat ini, “Ajari dan didiklah keluarga dan anak-anak kalian.” (Lihat Tuhfatu al-Maudud bi Ahkam al-Maulud, Ibnul Qayyim).
Kewajiban utama orang tua adalah menjadikan anak-anaknya memahami dengan benar, juga mendidik dengan nilai-nilai yang lurus. Diawali dengan menanamkan akidah yang benar, serta menjadikan kecintaan tertinggi hanya kepada Allah dan Rasul-Nya.
Selanjutnya memperkenalkan syariat dan mengajari untuk mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari sehingga mereka senantiasa menjadikan syariat sebagai pijakan dalam melangkah di mana pun mereka berada. Orang tua yang saleh akan mampu membersamai dan membimbing buah hatinya untuk cinta terhadap dan menjalankan syariatnya dengan penuh ketaatan kepada Allah.
Imam Ibnu al-Qayyim rahimahullah dalam Tuhfatu al-Maudud, menyampaikan perkataan sebagian ulama bahwa Allah akan terlebih dahulu meminta pertanggungjawaban orang tua terhadap pengelolaan anaknya sebelum meminta pertanggungjawaban anak dalam bersikap terhadap orang tuanya.
Seperti halnya orang tua memiliki hak yang wajib dipenuhi anaknya, maka anak pun memiliki hak yang wajib dipenuhi orang tuanya. Di sinilah pentingnya ayah bunda, umi abi berusaha keras untuk menjadikan dirinya saleh sehingga anak-anaknya kelak menjadi anak yang saleh pula.
Berupaya Menjadikan Diri Sendiri Saleh
Bagaimanapun juga, menjadi orang tua memang tidak mudah, harus terus belajar dan belajar. Istimewanya, sebagai din yang paripurna telah memberikan kepada umatnya rambu-rambu yang sangat terperinci.
Terlebih lagi Allah telah mengutus manusia pilihan yang menjadi contoh terbaik untuk kita semua, tentang cara menjadi orang tua yang baik untuk anak-anak kita. Apa yang harus kita lakukan agar kita makin saleh dan tentu saja hal ini akan berpengaruh terhadap cara kita mendidik anak-anak?
1. Memahami anak sebagai anugerah dan amanah dari Allah Taala.
Sebagai din yang sempurna, telah memosisikan anak sebagai anugerah dan amanah dari Allah Swt. yang harus dipertanggungjawabkan oleh setiap orang tua. Orang tua diberi amanah oleh Allah Swt. dengan kehadiran anak, bukan hanya untuk kehidupan di dunia, melainkan juga untuk kehidupan di akhirat.
Jika orang tua paham bahwa proses pendidikan terhadap anaknya akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak, ia akan melakukannya dengan hati-hati sesuai dengan syariat dan tidak akan mencelakakan anak.
Anak sebagai anugerah, sudah seharusnya orang tua mensyukuri nikmat yang tidak terhingga ini, karena dipercaya untuk membesarkan anak-anaknya. Untuk mensyukurinya, maka wajib menjaga tumbuh kembangnya dengan penuh kasih sayang dan kesabaran.
Sejak dalam kandungan, istri dan suami, sebagai calon orang tua, wajib mempersiapkan diri untuk menjaga, mendidik, dan melindunginya. Dengan penuh harap agar anak bisa menikmati perjalanan hidupnya sebagai anak yang saleh dan salihah, mandiri, mampu mengarungi kehidupan dengan baik, dan menjadi orang yang siap mengemban dakwah dan memperjuangkan .
2. Memahami bahwa anak adalah aset generasi mendatang yang sangat berharga.
Kita paham bahwa keberadaan anak-anak menjadi jalan lestarinya keturunan kita selanjutnya. Terlebih lagi di tangan merekalah tergenggam masa depan umat, merekalah yang akan menggantikan generasi kita sekarang.
Oleh karena itu, merupakan keharusan untuk memperhatikan dan mempersiapkan pola pengasuhan dan pendidikan yang baik untuk anak-anak. Kita tidak boleh terjebak pada pola asuh dan pola didik yang justru bisa menjadi racun bagi anak-anak kita.
Dengan kita memahami bahwa anak-anak adalah aset masa depan dan juga menjadi ladang pahala, maka kita akan jaga agar proses tumbuh kembangnya berlangsung dengan baik sehingga terwujud generasi masa depan yang berkualitas.
Allah Swt. telah memperingatkan kita semua agar tidak meninggalkan anak-anak yang lemah, sebagaimana firman-Nya dalam QS An-Nisa ayat 9,
سَدِيدًا قَوْلًا وَلْيَقُولُوا۟ ٱللَّهَ فَلْيَتَّقُوا۟ عَلَيْهِمْ خَافُوا۟ ضِعَٰفًا ذُرِّيَّةً خَلْفِهِمْ مِنْ تَرَكُوا۟ لَوْ ٱلَّذِينَ وَلْيَخْشَ
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Karenanya hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mengucapkan perkataan yang benar.”
3. Belajar tanpa lelah.
Setiap orang tua harus terus mengajarkan yang lurus kepada anak-anaknya, untuk menjadi bekal bagi anak-anaknya kelak dalam mengarungi kehidupan. Di sinilah pentingnya umi dan abi untuk terus belajar dan memahaminya dengan benar.
Karenanya tidak ada kata berhenti dalam belajar . Kita harus terus melakukannya hingga akhir hayat. Yaitu hingga nyawa terpisah dari raga, barulah selesai tugas belajar kita.
Dengan belajar , kita makin paham , mengetahui hukum-hukum , memahami aturan dengan benar. Kita akan makin memahami perbuatan yang boleh dilakukan, yang sebaiknya dijauhi, dan yang sebaiknya dilakukan karena berpahala. Demikian pula kita akan mengetahui perbuatan yang tidak boleh dilakukan karena bisa mendatangkan dosa dan perbuatan yang wajib dilakukan karena meninggalkannya kita berdosa.
Dengan belajar kafah, kita akan menjadi orang tua saleh, menjadi bekal untuk menjalani hidup, sekaligus menjadi bekal sebagai orang tua. Dengan pemahaman ini kita didik dan bina anak-anak kita dengan kafah sehingga menjadikan mereka anak-anak yang saleh dan salihah. Amin.
4. Menjadikan hukum syarak dan perbuatan Rasulullah sebagai pijakan.
Menjadi suatu keharusan bagi setiap keluarga muslim untuk menjadikan dan syariatnya sebagai panduan dan solusi terhadap seluruh permasalahan yang terjadi dalam kehidupan berkeluarga. Dan ketika syariat dijadikan sebagai pijakan, akan memudahkan bagi orang tua dalam proses pengasuhan dan pendidikan anak.
Selanjutnya, insyaallah keberkahan dan ketenteraman akan senantiasa tercurah bagi keluarga kita. Di sinilah pentingnya orang tua untuk menguatkan pemahaman di tengah-tengah anggota keluarga.
Di samping itu, Rasulullah memberikan teladan yang indah dalam membimbing dan mendidik anak-anak. Beliau senantiasa berbicara lemah lembut dan tidak pernah mencela anak-anak. Bila mereka melakukan kesalahan, Rasulullah meluruskannya dengan baik.
Umar bin Salamah, anak tiri beliau, menceritakan, “Ketika masih anak-anak, aku pernah dipangku Rasulullah saw., tanganku melayang ke arah nampan berisi makanan. Rasulullah berkata kepadaku, ’Nak, bacalah basmalah, lalu makanlah dengan tangan kanan dan ambillah makanan yang terdekat denganmu.’ Maka seperti itulah cara makanku dan seterusnya.” (HR Bukhari dan Muslim)
Ini semua kita tanamkan kepada anak-anak kita dan juga kita beri contoh kepada mereka sehingga mereka pun selalu menjadikan hukum syarak sebagai pijakan dalam melangkah di mana pun mereka berada, dalam keadaan sulit maupun lapang.
5. Satu frekuensi dan sering berdiskusi tentang antara ayah dan bunda.
Kesamaan langkah antara ayah dan ibu merupakan hal yang penting dalam proses pembentukan kepribadian anak, terlebih berkaitan dengan hal-hal yang mendasar atau prinsip hidup. Pada faktanya, kadang kala terjadi perbedaan pemahaman antara ayah dan ibu tentang sesuatu dan kerap hal ini membawa dampak buruk kepada pola asuh terhadap anak-anak. Di sinilah pentingnya diskusi ketika terjadi perbedaan pendapat atau pemahaman di antara pasutri.
Jika hal ini berkaitan dengan hal yang prinsip, tentu saja harus diselesaikan dengan baik oleh umi dan abi, dengan mengembalikannya kepada tuntunan syarak. Akan tetapi, jika berkaitan dengan permasalahan cabang atau berkaitan dengan hal yang mubah, hal ini pun harus didiskusikan dengan baik. Tidak boleh mengedepankan ego yang tidak jarang menjadikan anak sebagai korban. Jangan sampai anak mengalami kebingungan dan kehilangan pijakan.
Potret Keluarga para Ulama
Rasulullah saw. adalah contoh terbaik kita, demikian halnya para sahabat patut kita contoh. Selain itu para ulama setelahnya, terlebih pada masa kejayaan , sudah seharusnya juga kita jadikan teladan dalam mewujudkan keluarga yang saleh.
Imam As-Suyuthi rahimahullah yang dijuluki sebagai Ibnul Kutub (si anak buku), karena ia lahir di antara buku-buku ayahnya. Pada waktu itu, ayahnya ingin membaca suatu buku, ia meminta tolong istrinya yang sedang hamil ntuk mengambilkannya di antara buku-buku yang lain di rumahnya. Sesampainya di tempat buku-buku tersebut Imam as-Suyuthi rahimahullah dilahirkan (An-Nur as-Safir, An-Akhbaril Qarnil ‘Asyir, hlm. 51).
Subhanallah di tengah keluarga yang sarat ilmu beliau dibesarkan hingga beliau menjadi ulama terpercaya. Dari orang tua berkualitas diharapkan keturunannya pun memiliki kapasitas ilmu dan amal yang saleh pula.
Lihat juga keluarga Imam Ahmad bin Hanbal asy-Syaibani rahimahullah. Bermula dari pendidikan seorang ayah yang cinta ilmu dan amal, Abdullah bin Ahmad tumbuh menjadi anak yang saleh dan menjadi ulama periwayat kitab Musnad al-Kabir maupun kitab-kitab lainnya. Beliau menjadi orang nomor satu di dunia ini yang banyak meriwayatkan hadis.
Imam Ahmad bin Ja’far ibnu al-Munadi rahimahullah mengatakan, ”Tidak ada seorang pun di dunia ini yang paling banyak meriwayatkan hadis dari Ahmad bin Hanbal melebihi putranya (Abdullah bin Ahmad) karena ia telah belajar dari ayahnya 30.000 hadis dari kitab Musnad, 80.000 hadis dari kitab tafsir, dan selebihnya adalah wijadah (mendapati hadis dari buku tulisan ayahnya).
Ia juga belajar dari ayahnya tentang nasikh mansukh, tarikh, hadits riwayat syu’bah, ilmu yang berkaitan dengan al-Quran, kitab manasik yang besar maupun yang kecil dan lain sebagainya (Tarikh al- wa Wafayat al-Masyahir al-A’lam, VI/762, karya Adz-Dzahabi).
Demikian sekilas kisah tentang para ulama yang mereka lahir dalam keluarga yang orang tuanya memiliki kesalehan yang luar biasa. Di sini memperlihatkan betapa pentingnya kesalehan orang tua agar anak-anaknya tumbuh kecintaan pada agama sebagai modal dasar untuk kebaikan dan keberkahan hidupnya.
Keluarga akan harmonis dan bahagia ketika ayah ibunya atau umi abinya selalu berusaha keras untuk menjadikan dirinya saleh sehingga dengan petunjuk Allah Swt. anak-anaknya mengikuti jejaknya. Wallahualam bissawab. [MNews/Rgl]