Pada 17 Juli 1994 di Rose Bowl, Italia dan Brasil berduel hingga adu penalti setelah 120 menit tanpa gol. Roberto Baggio — si Divine Ponytail yang menggendong Italia ke final lewat lima gol krusial — melangkah sebagai penendang kelima, penentu hidup-mati mimpi Azzurri.
Namun bola yang seharusnya menjadi penyelamat justru melambung tinggi melewati mistar Taffarel. Brasil menang 3-2. Italia kembali gagal meraih gelar dunia. Dan Baggio hanya berdiri terpaku, tangan di pinggul, menatap hampa saat seluruh dunia melihat mimpinya runtuh dalam sekejap.
Lebih dari 30 tahun berlalu, kini di usia 58 tahun, bayang-bayang kegagalan itu tak pernah benar-benar pergi. Dalam setiap wawancara, dokumenter, atau saat bertemu penggemar, satu kata selalu keluar dari mulutnya: “Maaf.” Sebuah penyesalan yang melekat lebih kuat daripada seluruh kejeniusannya di lapangan. Satu tendangan — yang terus menghantuinya, selamanya.
#303VIPfootballfootballanalysisfootballfactsfootballtiktokfootballnews
Mantan bek timnas Prancis, Benjamin Mendy, bikin heboh usai melelang replika resmi Trofi Piala Dunia 2018 miliknya seharga 46.270 Pounds (sekitar Rp1 Miliar)!
Saat dikritik netizen, balesan doi malah santai banget:...
Pelatih PSG, Luis Enrique, menegaskan bahwa Fabian Ruiz adalah salah satu pemain paling penting namun paling kurang dihargai di sepak bola saat ini. Meskipun sukses di level klub maupun Timnas Spanyol, apresiasi...