Krakatau Meletus, Peneliti BRIN Ingatkan Petaka Besar Tahun 1883
Krakatau Meletus, Peneliti BRIN Ingatkan Petaka Besar Tahun 1883
Gunung Api Anak Krakatau kembali menunjukkan aktivitas vulkaniknya dengan rentetan erupsi yang berlangsung sejak Jumat (4/9/2024) pukul 23:07 WIB hingga Sabtu (5/9/2024) pukul 04:40 WIB.
Aktivitas ini menyusul peningkatan status gunung tersebut yang kembali aktif sejak Juli 2026.
Meski aktivitas vulkanik kembali meningkat, Badan Geologi Kementerian ESDM memastikan potensi ancaman bencana tsunami sejauh ini masih dalam batas aman.
Pada Agustus 1883, dunia bergetar akibat letusan Krakatau, sebuah gunung berapi di Selat Sunda yang menghubungkan Laut Jawa dan Samudra Hindia.
Letusan Krakatau memiliki daya ledak setara bom 200 megaton, menewaskan lebih dari 36.000 orang dan mendinginkan seluruh Bumi rata-rata 0,6°C selama beberapa bulan ke depan.
Letusan Krakatau pada tahun 1883 merupakan salah satu letusan gunung berapi paling mematikan dalam sejarah modern, hanya kalah dari letusan Tambora pada tahun 1815 yang menewaskan 60.000 orang.
Dampak peristiwa itu dirasakan di seluruh dunia dan bahkan tampaknya mencapai jauh ke stratosfer, membuat Bulan tampak biru di malam hari.
Letusan tersebut melepaskan sulfur dioksida dan partikel lain seperti abu ke udara. Partikel-partikel ini menyaring warna-warna sinar matahari yang mencapai Bumi. Warna yang berbeda memiliki panjang gelombang yang berbeda, dengan merah sebagai yang terpanjang, ungu sebagai yang terpendek, dan yang lainnya berada di antara keduanya, mengikuti urutan pelangi.
Partikel vulkanik tersebut berukuran lebih kecil dari satu mikron, yang kira-kira seratus kali lebih kecil dari ketebalan rambut manusia. Namun, partikel-partikel tersebut sedikit lebih lebar daripada panjang gelombang cahaya merah, sehingga setelah tersebar, partikel-partikel tersebut menyerap cahaya merah sambil membiarkan warna lain melewatinya. Hal ini menghasilkan lanskap surealis dan banyak Bulan biru.
⚠️ Semua gambar adalah milik pemiliknya masing-masing‼️
#krakatau