Cinta yang Diam-Diam Disimpan Ayah

Rahima 31
8 Views
Sejak kecil, aku selalu merasa lebih dekat dengan ibu. Ibu adalah sosok yang selalu memelukku, meneleponku, menanyakan kabarku, dan menunjukkan kasih sayangnya dengan kata-kata. Sementara ayah adalah sosok yang pendiam. Jarang memeluk, jarang menelepon, dan hampir tidak pernah mengatakan bahwa ia mencintaiku. Aku pun tumbuh dengan sebuah kesalahpahaman. Aku mengira ayah tidak terlalu menyayangiku. Hingga suatu hari, ketika aku pulang ke rumah dan mendapati ayah sering batuk, ibu perlahan membuka rahasia yang selama bertahun-tahun disimpannya. Ternyata, di balik diamnya ayah ada cinta yang begitu besar. Ketika aku berangkat kuliah ke Jakarta, ayah sebenarnya ingin memelukku di stasiun. Namun karena merasa tidak pantas memeluk anak perempuan di depan banyak orang, ia hanya menjabat tanganku dan berdiri hingga kereta yang membawaku pergi menghilang dari pandangannya. Ketika aku kuliah, ternyata ayahlah yang selalu mengingatkan ibu untuk meneleponku. Ketika aku wisuda, ayah berdiri dari kejauhan hanya untuk melihatku lebih jelas. Ia tersenyum bangga sambil menyeka air mata yang diam-diam jatuh. Dan sebuah tas sekolah yang dulu kubanggakan ternyata menyimpan pengorbanan yang tidak pernah kuketahui. Uang yang seharusnya digunakan ayah untuk berobat justru dipakainya untuk membeli tas yang kuinginkan. Namun kisah yang paling menghancurkan hatiku adalah cerita ibu tentang hari pernikahanku. Saat semua orang sibuk mengucapkan selamat dan menikmati kebahagiaan, ayah justru masuk ke kamar dan bersujud syukur. Dalam sujud panjangnya, ia menangis dan berdoa agar Allah memberikan kebahagiaan dalam hidupku. Saat itulah aku sadar... Selama ini aku hanya melihat cinta ibu yang terang-terangan, tetapi gagal melihat cinta ayah yang tersembunyi dalam setiap pengorbanannya. Kini ayah terbaring sakit. Untuk pertama kalinya, aku ingin membalas semua cinta yang selama ini tidak pernah ia minta untuk dibalas. Aku membawanya ke dokter. Aku menanggung biaya pengobatannya. Aku memijat kakinya. Aku menggenggam tangannya. Dan sebelum kembali ke Jakarta, aku memeluknya erat—seolah ingin membayar sebuah pelukan yang tertunda sejak bertahun-tahun lalu di stasiun. Namun waktu tidak pernah bisa kita kendalikan. Akankah aku masih memiliki cukup waktu untuk membalas cinta ayah? Ataukah aku akan menjadi salah satu dari banyak anak yang baru memahami betapa besar cinta orang tuanya setelah kehilangan? **“Cinta yang Diam-Diam Disimpan Ayah”** adalah kisah tentang pengorbanan, doa, penyesalan, dan cinta seorang ayah yang tidak banyak berkata-kata, tetapi sepanjang hidupnya tak pernah berhenti mencintai anaknya. Sebuah kisah yang mengingatkan kita: **Jangan menunggu kehilangan untuk memahami cinta orang tua.** Selagi mereka masih ada, pulanglah. Peluklah. Genggam tangannya. Dan katakanlah: **“Ayah, terima kasih. Aku mencintaimu.”** #novel

Comments