Bagaimana Manusia Membangun Terowongan Bawah Laut Sepanjang Hampir 40 KM?

0 Views
Jika membangun terowongan di darat saja sudah sulit, bagaimana manusia membangun terowongan bawah laut sepanjang hampir 40 kilometer? Dalam video ini kita membahas bagaimana para insinyur membangun Channel Tunnel, terowongan yang menghubungkan Inggris dan Prancis. Mulai dari menemukan lapisan batu Chalk Marl, membuat jalur pengeboran menggunakan survei presisi tinggi, mengarahkan TBM dengan sistem pemandu laser, hingga mengatasi gelombang tekanan udara yang muncul saat kereta berkecepatan tinggi melintas. Banyak orang mengira proyek ini dibangun hanya dalam 6 tahun, yaitu antara 1988 hingga 1994. Padahal proses mencari jalur, survei geologi, pengeboran borehole, hingga investigasi ulang sudah dimulai puluhan tahun sebelumnya. Berikut timeline singkat pembangunan Channel Tunnel : 1958–1959 - Survei geofisika bawah laut pertama. - Pengeboran borehole untuk mempelajari kondisi geologi dasar Selat Inggris. 1964–1965 - Survei geologi lebih rinci. - Sekitar 70 borehole dibor untuk mencari lapisan batu terbaik. 1972–1974 - Survei tambahan dilakukan. - Jalur dipindahkan ke arah selatan setelah ditemukan kondisi geologi yang lebih baik. 1974 - Pembangunan dimulai. - TBM pertama membuat terowongan percobaan sekitar 300 meter di sisi Inggris. 1975 - Proyek dihentikan karena alasan politik dan ekonomi. 1986–1988 - Proyek disetujui kembali. - Investigasi geologi dan geoteknik dilakukan untuk memfinalisasi desain. 1988 Pengeboran utama dimulai. 1990 - Service tunnel dari Inggris dan Prancis berhasil tersambung di bawah Selat Inggris. - Beberapa meter terakhir digali secara manual setelah TBM dihentikan. - Deviasi pertemuan hanya sekitar 36,2 cm. 1994 - Channel Tunnel resmi dibuka. FAKTA MENARIK Sebelum pengeboran dimulai, para surveyor lebih dulu menyatukan sistem koordinat Inggris dan Prancis menggunakan triangulasi, Electronic Distance Measurement (EDM), dan kemudian GPS untuk memverifikasi hasil pengukuran di permukaan. Koordinat tersebut kemudian dipindahkan ke dasar shaft menggunakan metode shaft plumbing dengan bantuan optical plummet. Setelah itu, data survei geologi digunakan untuk menentukan kedalaman lapisan Chalk Marl, sehingga para insinyur dapat membuat jalur tiga dimensi yang akan diikuti TBM. Selama proses pengeboran, laser theodolite dan titik-titik kontrol di dalam terowongan memastikan TBM tetap berada di jalur yang benar, meskipun GPS sudah tidak dapat digunakan.

Comments